Posted by: hagemman | May 23, 2009

ON THE WAY HOME

JALAN PULANGJalan pulang selalu merupakan hal mistis buat diri saya pribadi. Yang bukan cuma soal kembali ke tempat saya berasal, melainkan merupakan pemenuhan serta sekaligus penuntasan kerinduan yang lama saya pendam lebih dari satu bulan.

Jika pada akhirnya esok malam saya harus kembali ke Malang, seperti yang saya harapkan ; saya akan kembali lagi merasakan aroma gerbong berpendingin, nuansa kental ketika semua orang bergegas agar cepat sampai pada tujuan akhir, pada pagi hari berikutnya.

Seperti biasa sesungguhnya tidak banyak yang saya dapat lakukan selama berada dalam kereta api. Karena mata saya tidak lagi sehat, saya tidak ingin kepala jadi pening jika membaca koran atau bacaan lain. Termasuk juga untuk menyaksikan tayangan televisi. Satu hal yang masih bisa saya lakukan adalah memejamkan kedua mata dengan harapan agar cepat terlelap. Tapi payahnya saya punya kebiasaan buruk yakni tidak dapat tidur dalam kendaraan, betapa pun lelahnya. Maka sambil memejamkan mata akhirnya saya akan berupaya buat menikmati irama deru kereta.

Saya bayangkan bagaimana rangkaian roda yang digerakan mesin diesel menjejak dan berlari sepanjang lintasan rel. Pernah saya berpikir alangkah tidak efisiennya manusia menemukan alat transportasi semacam kereta api. Kendati dimana pun di dunia, kereta api memperoleh prioritas utama tanpa bisa dikalahkan dengan jenis transportasi lain. Tapi toh tetap pembangunan rel kereta api sepanjang tanah Jawa pada akhir abad 19 masih menyisakan luka mendalam bernama penggusuran, pertemuan perdana dengan apa yang disebut modernitas.

Hal lain lagi manakala malam telah larut ; jika saya duduk dekat jendela – saya kerap akan membiarkan tirai terbuka. Saya menikmati kelebatan dan pendaran cahaya-cahaya lampu diluar sana, terlebih ketika gerimis renjai menghempas jendela. Ada suatu keindahan luar biasa yang dapat saya nikmati sepenuh. Saya merasakan kereta api yang saya tumpangi ini menyusuri  kerendahan dengan dikelilingi bentuk-bentuk pesona pendaran cahaya yang tak beraturan.

Maka ketika fajar pagi dijelang ; kembali dengan takzim saya akan menyaksikan kabut terkuak oleh helai-helai cahaya. Suasana dominan biru dan hijau, sepi dan dingin adalah sungguh selalu menjadi pertanda kedatangan hari yang baru. Isyarat bahwa saya kian mendekati akhir perjalanan. Saat yang dinanti oleh siapa pun.

Inilah saat ketika penumpang kian berkurang saat stasiun demi stasiun perhentian dilalui. Gerbong akan kian lengang dan semakin lengang ketika Blitar dilalui. Dan ada keajaiban lain, ketika saya memperhatikan kesekeliling pada penumpang yang tersisa dengan tujuan akhir kota Malang. Wajah-wajah yang memang anehnya tidak pernah ada yang saya kenali, tapi satu hal ada kesan yang tak terhindarkan ada perasaan bahwa kita sesama Arema, bersama menuju tujuan yang sama. Barangkali itulah salah satu sebabnya jalan pulang merupakan sesuatu yang mistis. Dan manis.  

 

Picture courtesy of  Cecilia  Evy  Rumengan

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.