Posted by: hagemman | May 22, 2009

SEBUAH PERENUNGAN

dawnSeputar Indonesia kemarin menyajikan informasi menarik bahwa menjelang jatuhnya pesawat Hercules C-130 TNI AU pada tanggal 20.05.2009 lalu, pilot masih berhubungan dengan menara pengawas Lanud Iswahjudi pada pukul 06.27 WIB bahwa kondisi normal dan segera akan melakukan pendaratan.  Posisi sebelum hubungan ini diketahui bahwa pesawat berada pada posisi sekitar 5 km dari wilayah udara Lanud Iswahjudi dan berada pada ketinggian 12.000 kaki.

Pukul 06.29 WIB, pilot melapor pesawat telah berada pada ketinggian 1.000 kaki dan komunikasi terputus. Sampai kemudian pada pukul 06.30 pesawat naas itu terjatuh setelah menghajar rumah penduduk, menyerempet rimbunan pohon bambu dan pukul 06.33 pesawat meledak lalu terbakar. Sekitar pukul 11.00 api yang membakar bagian depan hingga bagian tengah pesawat padam.

Kesaksian tidak langsung korban yang selamat mengatakan saat menjelang jatuh seluruh penumpang di dalam pesawat seperti dikocok ke segala arah. Sampai kemudian yang bersangkutan pingsan dan baru tersadar setelah dievakuasi di RS Lanud Iswahjudi.

Sampai saat ini memang belum ada keterangan resmi TNI AU terkecuali konfirmasi apa yang disampaikan Seputar Indonesia tersebut diatas. Besar dugaan pesawat Hercules tersebut tidak kehilangan ketinggian secara mendadak, Hercules yang produksi Lockheed ini terbukti kepiawaiannya untuk melakukan manuver. Sebab Hercules memang didesain khusus untuk kondisi pertempuran dan mampu mendarat pada landasan pendek.

Soal kesaksian tidak langsung korban yang selamat, hal itu mengindikasikan bahwa baik pilot dan ko-pilot sedang berupaya mengendalikan pesawat. Sehingga akibatnya penumpang merasa seperti dikocok ke segala arah. Dalam waktu sepersekian detik, pilot harus cepat mengambil keputusan terbaik dan terbukti tampaknya ia mengarahkan pesawat ke arah ruang terbuka. Kendati pesawat itu masih menghantam sebuah rumah dan pohon bambu sebelum terjatuh.

Kini yang menjadi masalah faktor penyebab sesungguhnya tentu masih dalam penyidikan ; di satu sisi jelas kita amat berduka tapi di sisi lain kita pun harus memberikan apresiasi khusus untuk crew penerbang pesawat naas ini yang sudah berupaya kendati pada akhirnya 98 penumpang tewas, 3 penduduk tewas dan 15 luka-luka baik personil militer maupun warga sipil (Detikcom,22.05.09).

TNI AU kita amat ketat dan profesional melakukan pengecekan dan pemeriksaan berkala seluruh pesawat-pesawatnya – setidaknya itu yang saya pribadi ketahui di Lanud Abdurahman Saleh, Malang ; walau ditengah keterbatasan anggaran pemerintah. Mereka selama ini sudah melakukan yang terbaik yang mampu mereka lakukan. Kita mengharapkan adanya solusi nyata yang mendesak dari pemerintah dengan kesadaran bahwa betapa pun juga alasan pengeprasan anggaran pertahanan akan memberikan dampak yang lebih luas hingga jatuhnya korban putera-putera terbaik kita serta pertaruhan martabat negara dan bangsa.

 

Sumber  :  Seputar Indonesia, 21.05.2009

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.