Rendahnya minat generasi muda untuk menjadi perajin batik membuat industri batik akan terancam. Kendati busana batik dengan pelbagai turunannya sudah menjadi tren dalam lima tahun terakhir ini.
Misal di Tasikmalaya, perajin batik yang mampu membatik saat ini usianya sudah di atas 50 tahun dan hanya berjumlah 10 orang. Akibat ketiadaan regenerasi maka diperkirakan dari total 2.700 perajin batik di Jawa Barat akan berkurang sekitar 10% setiap tahunnya.
Menyimak hal ini Sendy Yusuf, Ketua Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) mempunyai pendapat menarik, bahwa minat generasi muda menjadi perajin batik rendah karena mereka memandang profesi itu tidak menjanjikan sehingga memilih pekerjaan lain. Jadi para pemuda harus dirangkul untuk belajar menjadi perajin batik. Pihak YBJB sudah menyelenggarakan pelatihan membatik serta sosialisasi. Juga serupa dengan tanggapan Sekretaris Paguyuban Baraya Ecky Suryawijaya yakni melalui kerja sama dengan SMIK Tasikmalaya dimana program membatik kini telah dimasukan ke dalam program ekstra kurikuler sekolah tersebut. Tapi sampai sejauh ini baru ada dua siswa SMIK tersebut yang mau belajar membatik.
Bisa jadi rendahnya minat generasi muda bukan hanya bidang ini tidak menjanjikan melainkan untuk membatik dibutuhkan ketekunan, keuletan, dan keseriusan. Tiga hal ini tampaknya tidak menarik hati generasi muda kita. Padahal menurut Kabid Perdagangan dan Perindustrian Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Tasikmalaya Ma’moen Noor, perajin batik khas Tasikmalaya saat ini ada 23 orang yang mampu menyerap 446 tenaga kerja dan nilai investasi Rp 1,8 milliar mampu menghasilkan nilai produksi sebesar Rp 10,219 milliar.
Jadi jika keberadaan perajin batik tulis ini terancam, alangkah memprihatinkan sebab seperti kita ketahui negara-negara tetangga sudah lama mengincar batik kita baik dengan mempelajari hingga yang merampok dengan mencuri desain dan mempatenkannya. Ataukah memang semuanya harus terwujud menjadi bentuk industri dengan batik cap ? Sehingga kita tidak lagi dapat merasakan keindahan yang berkarakter saat kita mengagumi dan meraba sehelai batik tulis. Bisa jadi juga batik tulis harus ditransformasikan dari produk busana menjadi produk adi karya seni, untuk hal ini koq ya saya yakin seorang Yoris Sebastian yang super kreatif akan mampu melakukannya.
Sumber : Kompas, 18.05.2009
Seputar Indonesia, 21.05.2009



Semoga generasi muda bisa lebih memperhatikan batik. Dapat diwujudkan dengan ikut memakai pakaian batik. Sehingga dapat membantu pengrajin batik di daerah.
By: Mabrur Romadhon on June 19, 2009
at 9:43 am