Hari Senin, 27.04.2009, pagi selama 30 menit sebuah pesawat cadangan kepresidenan Air Force One AS tipe B 747 dan sebuah pesawat tempur F 16 terbang rendah mengitari Patung Liberty dan langit Lower Manhattan dekat lokasi World Trade Center yang menjadi sasaran Serangan 9/11. Hal ini menimbulkan heboh tak terperi bagi warga New York yang bergegas ramai-ramai meninggalkan kantor mereka. “Saya melihat orang-orang berlarian dan saya juga berlari ke luar. Jantung saya berdebar,” kata pedagang komoditas, Juergens Bauer yang merasa terteror, ketika para karyawan dievakuasi dari gedung-gedung tinggi dan polisi kebanjiran telpon dari warga.
Apa pasal ? Ternyata peristiwa yang bikin panik itu merupakan sebuah sesi pemotretan untuk mendapatkan pesawat presiden terbang di depan monumen dan bangunan nasional. Untuk keperluan memperbarui foto-foto dokumentasi pesawat presiden terbang dekat Patung Liberty. Sekaligus juga untuk menghemat anggaran, momen ini dipergunakan juga sebagai pelatihan pesawat tempur. Tapi yang menjadi masalah Departemen Pertahanan kurang melakukan sosialisasi sehingga Walikota New York Michael Bloomberg pun tidak tahu menahu. Komentarnya singkat bahwa kejadian itu ‘tidak peka’ jika dilakukan begitu dekat dengan situs Serangan 9/11.
Belakangan Direktur Bagian Militer Gedung Putih Louis Caldera mengaku bahwa ia yang menyetujui misi di atas langit New York dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya ini. Menurutnya Pemerintah Federal sebenarnya sudah memberitahu otoritas lokal di Negara Bagian New York dan New Jersey ; tapi tampaknya pemberitahuan itu tidak tersosialisasi dengan baik bagi banyak warga New York yang panik pada Senin pagi hari itu. Dan Presiden Barrack H. Obama sendiri menjadi berang begitu diberi tahu tentang peristiwa ini.
Inilah cermin betapa gamangnya warga AS, kendati peristiwa Serangan 9/11 telah delapan tahun berlalu. Jadi benar yang dikatakan Bloomberg bahwa peristiwa ini sungguh ‘tidak peka’ buanget.
Sumber : Kompas | AP
Picture courtesy of Boeing


