Posted by: hagemman | April 28, 2009

LAKSAMANA MALAHAYATI

kemala_hayati03Tampaknya tidak banyak yang tahu bahwa bangsa kita pernah memiliki laksamana wanita. Hebatnya lagi secara historis tercatat sebagai laksamana wanita kedua di dunia. Yang pertama adalah Artemisya, permaisuri Raja Mosul di Anatolia yang hidup pada tahun 480 SM.

Laksamana wanita kita ini bernama Malahayati (1585 – 1604), nama lengkapnya adalah Keumala Hayati dari Aceh. Ia puteri Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayah adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahudin Syah yang memerintah Aceh sekitar 1530 – 1539. Sultan Salahudin adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513 – 1530), yang dikenal juga sebagai pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.

Malahayati adalah alumni jurusan angkatan laut di Mahad Baitul Mukadis, akademi militer Aceh yang dibangun atas bantuan pemerintahan Bani Usmaniyah Turki di bawah Sultan Selim II. Di akademi ini tercatat ada kurang lebih 100 instruktur Turki. Di akademi inilah Malahayati bertemu calon suaminya yang lebih senior dan yang kemudian sang suami tercinta menjadi Laksamana, sedangkan ia sendiri diangkat Sultan menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam.

Ketika suaminya tewas dalam pertempuran laut di Teluk Haru (Selat Malaka) melawan Portugis. Malahayati memohon kepada Sultan Al Mukammil (1589 – 1604) untuk membentuk sebuah armada yang semua prajuritnya para janda yang suaminya gugur dalam pertempuran Teluk Haru. Sultan mengabulkan dan mengangkat Laksamana Malahayati sebagai Panglima Armada Inong Balee (Armada Perempuan Janda). Yang anggotanya dari 1.000 orang berangsur menjadi 2.000 orang sebab ada gadis-gadis muda yang bergabung. Armada ini memiliki pangkalan di Teluk Lamreh Krueng Raya dengan 100 kapal perang bersenjata meriam dan sebagian mampu mengangkut 400 – 500 pasukan. Bentengnya dinamakan Kuto Inong Balee di atas perbukitan menghadap ke teluk.

Kiprah Malahayati memang terbukti. Ia berhasil menghantam empat kapal dagang Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman pada tahun 1599 yang dinilai melakukan kecurangan. Bahkan Cornelis yang kondang dikenal sebagai salah satu orang Belanda yang tiba di Banten tahun 1596 ; tewas di tangannya. Untuk jasanya ini Malahayati diangkat sebagai Panglima Angkatan Laut Aceh. Setahun setelah kejadian ini, lagi-lagi Belanda berulah ketika dua kapal dagang Belanda di bawah pimpinan Paulus van Caerden menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh yang bermuatan lada serta beberapa kapal lainnya. Akibat ulah ini, Malahayati menangkap rombongan armada empat kapal Jacob van Neck yang bersenjata lengkap, dalam perjalanan ke Maluku untuk mengusir Portugis, yang tiba di Aceh pada tanggal 31.06.1601.

Sampai Prins Maurits merasa perlu untuk mengirim surat permohonan maaf kepada Sultan yang kemudian dibawa oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker. Rombongan ini tiba di Aceh pada tanggal 23.08.1601. Perundingan damai pun disepakati, Belanda memberikan ganti rugi kepada pihak Aceh sebesar 50 ribu gulden atas ulah norak van Caerden dan Aceh pun membebaskan Frederijk de Houtman yang selama ditahan menulis kamus bahasa Melayu – Belanda dan menterjemahkan Injil ke bahasa Melayu.

Yang luar biasa, Malahayati pula yang menghadapi Laksamana Sir James Lancaster pada tanggal 6 Juni 1602, yang dikirim oleh Ratu Elizabeth I (1558 – 1603) dari Inggeris untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Aceh. Dengan demikian jelaslah, Malahayati bukan cuma seorang yang berkiprah di medan perang laut tetapi juga seorang diplomat ulung di meja perundingan. Dan terbukti ia mampu menghadapi Sir James Lancaster yang dikenal sebagai tokoh maritim dunia.

Malahayati gugur dalam sebuah pertempuran laut melawan armada Portugis di Teluk Krueng Raya. Ia dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah bukit di desa nelayan Krueng Raya yang berjarak 34 kilometer dari kota Banda Aceh. Indonesia patut bangga dengan sosok Malahayati, seorang perempuan perkasa – Srikandi laut dengan Armada Inong Balee-nya.

 
Sumber :

Malahayati, Srikandi dari Aceh – Solichin Salam
Laksamana Keumalahayati – Rusdi Sufi
Koran Tempo, 26.04.2009

Picture Courtesy of Dede Eri Supria


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: