Tak ada yang lebih nyata dibandingkan dengan eksistensi pusat perbelanjaan yang marak hadir dalam kehidupan kita sejak akhir tahun 1970′an. Mall atau apa pun istilah lainnya tetaplah menjadi monster modernitas yang rakus menyerap segalanya. Dari penguasaan lahan hingga pasar, dari penyihiran individu hingga komunal. Maka Mall menjelma jadi identitas kehidupan budaya urban.
Mall adalah juga monster bagi Pasar Tradisional yang entah mengapa selalu ringkih serta kian kadung kehilangan pamor. Pemerintah telah gagal menyeimbangkan kelangsungan eksistensi Mall dan Pasar Tradisional secara mendasar. Dan kembali kenyamanan dalam arti materi serta berjangka pendek selalu di atas segalanya, kendati ada harga nan mahal yang harus dibayar untuk kemudian bermuara pada isu pemanasan global. Sementara berabad silam Jayabaya lebih cerdas lewat pesan profetiknya yang mengatakan jika Pasar Tradisional kehilangan jati dirinya, maka berakhirlah segalanya.
Maka cukuplah sejam kita berada di dalam sebuah Mall untuk menatap wajah mutakhir bangsa ini, ketika pelbagai kepentingan dijelmakan jadi hal rekreatif. Sebuah permainan yang amat nyata membius dan menyihir untuk kita lari sejenak dari kegerahan serta kegamangan hidup di luar sana. Sementara Pasar Tradisional yang sumpek, bau dan becek terasa amat tidak memadai lagi untuk mereka yang siap merogoh kocek di jaman serba susah ini. Jelaslah bagi kita bahwa memang semua kembali pada pilihan yang jadi amat rentan jika unsur kenyamanan, kecepatan dan kenikmatan mampu dikemas apik buat disajikan.
Tidaklah aneh, jika kita jadi bertanya-tanya apakah signifikansi dan relevansi keberadaan sebuah tempat sebagai pertemuan antara penawaran dan permintaan masih tetap berlaku ? Jika tidak maka tentu teori ekonomi baku soal ini harus dikaji dan direvisi ulang demi untuk lebih memahami, menjinakan serta menundukan monster bernama Mall atau apa pun istilah lainnya yang telah menginvasi kota-kota kita, kota yang juga milik anak cucu kita kelak.


