Setelah sepekan berlangsung Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, belum mencapai kemajuan berarti. Sebaliknya, menjelang kedatangan lebih dari 100 kepala negara / pemerintahan ini situasi di luar ruang konferensi mulai memanas.
Negosiasi pada Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) pada Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) terkait dengan upaya mengatasi tantangan perubahan iklim dan dampaknya belum menampakkan hasil memadai hingga Sabtu (12/12). Kini semua kelompok negara menumpukan harapan kepada dua raksasa dunia, AS dan China, untuk mengatasinya. Keduanya adalah emiter gas rumah kaca dua terbesar di dunia.
Kedua negara tersebut amat dinantikan komitmennya mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan jika dunia ingin mempertahankan kenaikan suhu Bumi di bawah 2 derajat celsius. Kenaikan suhu di atas 2 derajat celsius, menurut para ahli, akan membawa Bumi kepada kehancuran karena akan terjadi berbagai bencana iklim : banjir, badai, kekeringan, pulau tenggelam, gelombang tinggi, dan kepunahan spesies mahluk hidup dalam skala besar.
Menteri Lingkungan Swedia Andreas Carlgren (12/12) mengatakan, “Jika jalannya negosiasi tetap seperti ini, mereka tak akan mencapai hasil akhir memuaskan.” Swedia menjadi Presiden Uni Eropa (UE) hingga akhir tahun ini. Kelompok UE terdiri atas 27 negara. “Sejauh ini kita tak akan bisa mencapai target 2 derajat,” lanjutnya.
“AS dan China yang seharusnya menawarkan (pengurangan emisi) lebih besar,” tegasnya. Menurut dia, janji yang diberikan kedua negara tersebut sampai sekarang belum mencukupi kebutuhan, sementara UE menambah komitmennya mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 30 persen pada tahun 2020, dari janji sebelumnya 20 persen. Pengurangan diukur dari level emisi tahun 1990 sesuai dengan Protokol Kyoto.























