Buaya dan cicak jelas memang berbeda. Baik fisik maupun kelakuan. Buaya adalah sejenis binatang berbahaya dan licik. Di muara sungai, buaya sanggup diam mengintai berjam-jam dengan penuh kesabaran. Ia kelihatan jinak tapi dalam waktu sedetik ia berubah menjadi monster yang menakutkan. Ia mendadak secepat kilat akan menerkam mangsanya dengan kecepatan tinggi. Lalu menggigit mangsanya. Tekanan gigi-geligi buaya dewasa nan runcing dapat berbobot lebih dari 200 kilo per sentimeter persegi.
Gawatnya, buaya bukan jenis binatang melata karnivora yang akan seketika memakan habis korbannya. Buaya itu jenis binatang kurang ajar yang suka memendam sebagian mangsanya, untuk kemudian disantap habis beberapa waktu kemudian. Mengerikan dan memualkan.
Cicak berbeda. Ia tampak tak berdaya sama sekali. Saking tidak berdayanya ia rela melepas ekor, demi dapat meloloskan diri. Artinya cicak jenis binatang melata yang ikhlas berkorban. Hampir sebagian besar orang merasa jijik jika bersentuhan dengan cicak. Karena tubuhnya dingin, sebab ia tidak memiliki sistem peredaran darah pada umumnya.
Jadi kalau buaya dibandingkan cicak. Jelaslah cicak tidak ada apa-apanya. Bahkan tidak ada yang berharga dari diri seekor cicak, kecuali dibikin jadi ramuan obat. Sementara dari diri buaya banyak hal yang bisa kita manfaatkan ; dari kulit, tangkur, daging dan seterusnya. Sampai namanya pun bisa kita gunakan untuk mengekspresikan pri laku yang ndak beres, yaitu : buaya darat.
Nah, ribut-ribut soal buaya dan cicak. Mestinya kita bisa jernih berpikir bahwa ucapan seorang oknum kepolisian kita tentu sudah punya referensi duluan, sehingga bisa mengucap hal yang tak patut seperti itu. Dengan menganalogikan diri sebagai buaya, bisa jadi sang oknum fasih banget tentang perbuayaan. Sementara minim pengetahuan tentang percicakan yang kerap ikhlas mengorbankan dirinya.
Kesimpulan kita : duh, alangkah menyeramkan yang namanya buaya …
Harapan kita bersama-lah yang menopang republik ini. Maka ketika duet pasangan SBY-Boediono resmi dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden untuk periode 2009 – 2004, kendati amat seremonial dan berjarak ; kembali kita semua memiliki harapan yang besar untuk kehidupan dan penghidupan yang lebih baik di hari esok.
“ Tugas terberat seorang presiden, “ ujar Lyndon B Johnson, “ bukanlah mengerjakan apa yang benar, melainkan mengetahui apa yang benar.” Untuk mengetahui apa yang benar, seorang presiden harus menemukan panduan dari norma-norma fundamental. Bahwa praktik demokrasi harus disesuaikan dengan mandat konstitusi, karena pengertian “demokrasi konstitusional” tak lain adalah demokrasi yang tujuan ideologis dan teleologisnya adalah pembentukan dan pemenuhan konstitusi.
Salah satu hambatan keberhasilan pejabat yang duduk di tampuk kekuasaan untuk periode kedua adalah rasa percaya diri berlebihan.
Pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir-akhir ini amat relevan dengan pesannya kepada insinyur Indonesia. Dalam sambutan pada pembukaan Kongres XVII persatuan Insinyur Indonesia (PII). Presiden mengemukakan 12 tantangan bagi PII.
Terbitnya Laporan Pembangunan Manusia (HDR) 2009 awal Oktober 2009, tepat momentumnya bagi pemerintahan baru di bawah SBY-Boediono. Ini saatnya mewujudkan janji-janji yang ditebar selama kampanye lalu, terutama upaya mengurangi kemiskinan di Indonesia.
Keberadaan pasar tradisional di berbagai wilayah pedesaan maupun perkotaan masih menjadi urat nadi perekonomian masyarakat, meskipun eksistensi pasar tradisional semakin terancam oleh kehadiran pasar “semu” swalayan yang memiliki modal dan jaringan bisnis yang kuat.
Tampaknya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai komitmen kuat pada kesetaraan jender, seperti diungkapkan pada konferensi pers tentang kriteria kabinet, Rabu (14/10).
Ada kekeliruan mendasar dalam tulisan ahli kelirumonologi, Jaya Suprana, bertajuk “Kabinet” (Kompas, 17/10).
Sekitar 37 persen dari 3,6 juta pengguna narkotik, obat-obatan, dan zat adiktif di Indonesia masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Sebagian dari mereka yang mengonsumsi barang terlarang tersebut karena diajak teman sebayanya.








